19/03/10

Patung Di Gereja

Di gereja-gereja biasanya ada sejumlah patung. Tanpa patung, kita merasa ada yang belum pas. Gak mood rasanya kalau gereja tanpa patung. Ada sementara orang mengatakan bahwa orang katolik menyembah patung. Pemakaian patung dalam peribadatan merupakan bentuk penyembahan berhala. Alkitab melarang pemakaian patung seperti tertulis dalam Kel 20:4-5.

Apakah benar bahwa Alkitab melarang pemakaian patung dan dapatkah teks tersebut dipakai sebagai pendasarannya? “

4)Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau ayng ada di bumidi bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5)Jangan sujud menyembah kepadanya, atau beribadah kepadanya, sebab Aku TUHAN, Allahmu adalah Allah yang cemburu yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku”. (Keluaran 20:4-5. Ulangan 5:8-9).

Sepintas teks tersebut dilihat sebagai larangan pemakaian patung. Namun, jika itu yang dimaksud maka kehadiran ayat 5 menjadi tidak bermakna. Sebaliknya, justeru pada ayat limalah letak penekanannya. “jangan sujud menyembah, atau beribadah kepadanya”.

Jika yang dimaksud adalah larangan pemakaian patung, maka ayat empat sudah cukup sebab ayat 5 justeru mengurangi bobot ayat empat. Tidak ada indikasi larangan memakai patung, tetapi apa yang dilarang adalah memakai patung untuk disembah atau untuk beribadat-berdoa kepada patung itu.


Jadi, PEMAKAIAN PATUNG DALAM PERIBADATAN TIDAK DILARANG OLEH ALKITAB TETAPI JUSTERU DIPERINTAHKAN/DIANJURKAN. Apa yang dilarang oleh Tuhan adalah MENYEMBAH ATAU BERIBADAH KEPADA PATUNG.


Hanya dalam gagasan seperti itulah kita dapat memahami pernyataan sejumlah teks dalam Alkitab kita.

“Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung, atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu UNTUK SUJUD MENYEMBAH KEPADANYA sebab Akulah TUHAN Allahmu”. (Imamat 26:1).

Jadi, jangan tempatkan di negerimu patung, atau tugu, batu berukir untuk disembah.

Jika ayat ini [Imamat 26:1) bermaksud melarang pemakaian patung, maka ayat ini juga bermaksud melarang penggunaan batu berukir sebagaimana kita pakai untuk gereja dan rumah-rumah kita. Tetapi kita tetap memakai batu berukir sebab yang dilarang adalah HANYA pemakaian batu berukir untuk disujudsembah kepadanya. Apakah ada yang beribadah kepada patung? Tidak! Kecuali prasangka dan tuduhan

“Menyembah patung dan beribadah kepadanya” itulah yang menyebabkan sakit hati dan murka Tuhan (Lih 1Raj 16:29-34. Baca dengan teliti 2Raj 17:7-23).

Tuhan adalah Raja. Dia berkata:

“Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala segala allah sujud menyembah kepadaNya” (Mzr 97:7).

Kalau di atas ditanyakan: apakah Alkitab melarang penggunaan patung dalam peribadatan? Jawabannnya sudah jelas ” TIDAK"

Jawaban itu akan menjadi tak terbantahkan jika Alkitab memberi afirmasi atas pertanyaan ini:
Apakah Alkitab memperbolehkan pemakaian patung, atau apakah ada anjuran dalam Alkitab?

Mari kita lihat.!

Kitab Kejadian melukiskan adanya Kerub yakni makhluk sorgawi yang diperintahkan Allah untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan. (Kej 3:24). Anehnya, Kerub ini memiliki patungnya sendiri. Allah malah bertahta di atas patung Kerub.

“Pada saat itu kemuliaan Allah Israel sudah terangkat dari atas kerub, tempatnya semula, ke atas ambang pintu Bait Suci dan Dia memanggil orang yang berpakaian lenan dan yang mempunyai alat penulis di sisinya”. (Yeh 9:3 Baca juga 10:1).

Allah sendiri menyuruh membuat patung kerub.

“Dan haruslah kau buat dua kerup dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerup pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu, kamubuatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerup-kerup itu…Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan Engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerup yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yangakan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel” (Kel 25:18-20.22).

Apakah kau akan menjawab: Allah hanya menyuruh membuat patung kerub, tetapi Allah tidak menyuruh membuat patung Yesus, atau para santo dan santa.

Jika hal itu kau setuju maka, apakah kau setuju juga: Allah hanya berkata: “Dirikan rumahmu atas dasar batu”, tetapi Allah tidak menyuruh dirikan rumahmu atas dasar tanah? Tetapi kau tahu bahwa tak satu pun rumah di bawah kolong langit ini “berdiri atas dasar batu”, tetapi “atas dasar tanah”. Batu pertama beralaskan tanah, atau berdiri di atas tanah.


Andaikan saja bahwa Anda hidup bersama Musa. Apa pendapatmu ketika Anda melihat bahwa Musa sedang duduk, atau berdiri dan berbicara dengan Allah persis di depan kedua kerub itu? Apakah dia sedang menyembah dan beribadah kepada patung-patung kerub itu?

Tentu tidak bukan?

Tetapi Anda tahu bahwa Musa sedang menyembah Allahnya dan berbicara kepadaNya.

Kedua patung kerup yang bersayap itu hanyalah sarana yang disediakan oleh Allah sendiri untuk memudahkan Musa berbicara dengan DiriNya. Itulah sebabnya dikatakan:

“Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita”. Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian TUHAN semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub…”(1Sam 4:3-4).

Lihatlah: "Mengambil tabut dari Silo SUPAYA IA DATANG KE TENGAH-TENGAH KITA dan MELEPASKAN KITA dari tangan musuh.


Ingat bahwa tabut TUHAN yang bersemayam di atas kedua patung kerub itu bukanlah TUHAN. Tetapi melalui tabut TUHAN itulah orang Israel tahu bahwa TUHAN hadir bersama mereka. Hadir di atas semuanya itu.

Anda dapat membayangkan! Jika bangsa Israel sedang mengarak tabut TUHAN yang bersemayam di atas kedua patung kerub itu, apakah mereka sedang menyembah TABUT dan PATUNG KERUPnya, atau mereka sedang menyembah Tuhan semesta alam yg duduk di atas kerub itu? Bangsa Israel tidak menyembah TABUT, tetapi TUHANnya. Ini sangat jelas, bahkan terlalu.

Kita lihat juga yang berikut ini:

Allah menyuruh Musa membuat Ular Tembaga (tentu saja maksudnya adalah patung ular)

“Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

"BUATLAH ULAR TEDUNG dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup." Lalu Musa MEMBUAT ULAR TEMBAGA dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bilangan 21:8-9).

Jika patung ular begitu berharga di mata Tuhan dan karenanya Musa diperintahkan untuk membuatnya [ingat! Mustahil Allah menyuruh membuat sesuatu yang tak bermakna], apakah karena Gereja Katolik, sekali lagi karena Gereja Katolik membuat patung Yesus dan Maria IbuNya, serta para Santo-Santa, lalu menjadi penyembahan berhala dan Gereja Katolik ada Penyembah berhala? Amat muskil dan mustahil dijawab YA!

Apa yang dilakukan oleh Musa terjadi dalam konteks peribadatan kepada Tuhan. Demikian juga yang dilakukan oleh Gereja Katolik dewasa ini. Alasannya karena terlalu jelas bahwa tidak ada larangan pemakain patung dalam peribadatan, sebaliknya Alkitab menganjurkannya.

Ada seribu satu alasan lain yang mendukung pemahaman Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik itu. Tetapi apa yang telah diuraikan di atas lebih dari cukup. Semuanya terlalu jelas untuk dilihat oleh mata telanjang kecuali orang buta akan tetap buta.

Tarian Persembahan


Kita sudah sering melihat dan menikmati tarian persembahan dalam peribadatan Kristen. Apakah tindakan tersebut memiliki jejaknya dalam Alkitab? 

Orang Israel mempunyai kebiasaan menyambut kemenangan dalam perang dengan tari-tarian dan menyanyi (Hak 11:34, 21:21; 1Sam 18:6). Kebiasaan ini dipraktekkan pula dalam peribadatan mereka.
Kitab Keluaran menyajikan kepada kita bagaimana orang Israel menari dalam konteks penyembahan/peribadatan (yang salah).

“Dan ketika ia dekat dengan perkemahan itu dan melihat anak lembu dan melihat orang menari-nari, maka bangkitklah amarah Musa; dilemparkanyalah kedua loh itu dari tanganya dan dipecahkannya pada kaki gunung”. (Kel 32:19).

Amat jelas bahwa tarian yang dibuat berlangsung dalam konteks penyembahan berhala. Musa menjadi sangat marah.
Sesuai dengan konteksnya, Musa marah, tetapi sesuai dengan konteksnya pula Daud sangat antusias dan ambil bagian dalam hal tari-menari di hadapan Tuhan.

“Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala. Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhail, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya…Tetapi berkatalah Daud kepada Mikhail: Di hadapan TUHAN yang telah memilih aku dengan menyisihkan ayahmu dan segenap keluarganya untuk menunjuk aku menjadi raja atas umat TUHAN yakni atas Israel, - di hadapan TUHAN aku menari-nari…” (2Sam 6:14-16.21-22).

“Menari-nari” dikehendaki oleh Tuhan.

“Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagiMu dan jangan berdiam diri TUHAN Allahku untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagiMu” (Mzr 30:12-13).

Pemazmur juga mendaraskan puji-pujian kepada Allah dengan tari-tarian.

“Biarlah mereka memuji-muji namaNya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepadaNya dengan rebana dan kecapi” (Mzr 149:3).

Peribadatan Israel terasa penuh dengan sorak-sorai dan kegembiraan. Hal tersebut dapat kita rasakan manakala kita dengan tenang membaca mazmur penutup (150). Kami kutip sluruhnya dengan maksud kita dapat menikmatinya dalam jiwa yang bening.


“Halleuya! Pujilah Allah dalam tempat kudusNya! Pujilah Dia dalam cakrawalaNya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaanNya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaranNya yang hebat! Pujilah Dia dengan tiupan snagkala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”

Nabi Yeremia meramalkan kedatangan Kristus. Pada kedatangan sang Juru Selamat tersebut orang akan menari-nari.
“Pada waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka” (Yer 31:13).

Bapa Sorgawi berpesta dan menyambut pertobatan seorang anak manusia dengan tari-tarian (Luk 15:25). Sebaliknya, kata “tarian” mengingatkan kita akan perkabungan yang disebabkan oleh dosa anak manusia. (Rat 5:15).


Jadi, tari-menari di gereja mengingatkan dan menyadarkan akan dua hal penting:

1) Jauhilah segala berhala, rataplah akan segala kejahatan
2) Tuhan Sang Raja Hadir di sini untuk mengampuni, menghibur dan berpesta.

Penyanyi & Alat-alat Musik



Kata “musik” yang merujuk pada alat-alat kesenian hanya dipakai sekali dalam Alkitab. Ini tidak berarti bahwa pemakaian pelbagai alat musik dalam peribadatan Israel tidak penting, atau para penulis suci mengesampingkan pentingnya pemakaian alat musik dalam peribadatan. 

Teksnya dapat kita baca dalam kitab Tawarik. 

“Jadi, para imam dan orang-orang Lewi menguduskan dirinya untuk mengangkut tabut Tuhan, Allah Israel. Kemudian bani Lewi mengangkat tabut tabut Allah itu dengan gandar pengusung di atas bahu mereka, seperti yang diperintahkan Musa sesuai dengan Firman TUHAN. Daud memerintahkan para kepala orang Lewi itu supaya mereka menyuruh berdiri saudara-saudara sepuak mereka yakni para penyanyi, dengan membawa ALAT-ALAT MUSIK seperti gambus, kecapi dan ceracap untuk memperdengarkan dengan nyaring lagu-lagu gembira” (1Taw 15:14-16). 

Kita mengerti bahwa Tabut TUHAN adalah persiapan pentahtaan Anak Domba. Pada saat itulah musik dimainkan dan lagu-lagu gembira dinyanyikan. Jadi, musik dimainkan dalam suatu peristiwa pesta/perayaan pengangkatan tabut Tuhan. Pesta itu merupakan persiapan Perjamuan dan Pentahtaan Anak Domba yakni Ekaristi [Bdk ketika Imam mentahtakan Sakramen Mahakudus dlm sebuah Monstrans]. Dengan demikian, pemakaian musik dalam perayaan ekaristi sungguh memiliki dasar bibilisnya.



Para penyanyi disinggung juga dalam kita Tawarik.

“Mereka ini sekalian adalah anak-anak Heman, pelihat raja, menurut janji Allah untuk meninggikan tanduk kekuatannya; sebab Allah telah memberikan kepada Heman empat belas orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan. Mereka ini sekalian berada di bawah pimpinan ayah mereka pada waktu menyanyikan nyanyian di rumah TUHAN dengan diiringi ceracap, gambus dan kecapi untuk ibadah di rumah Allah dengan petunjuk raja. Demikianlah keadaan bai Asaf, Yedutun dan Heman. Jumlah mereka bersama-sama saudara-saudara mereka yang telah dilatih bernyanyi untuk TUHAN, mereka sekalian adalah ahli seni, ada dua ratus delapan puluh delapan orang” (1Taw 25:5-7). 

Kita menjadi tahu bahwa ternyata musik dan nyanyian dalam peribadatan yang resmi dan meriah diperlukan untuk kemuliaan Tuhan. Sedikit aneh, kita tidak menemukan kata “musik “ dalam teks-teks Perjanjian Baru. Namun peralatan musik banyak disebutkan (1Kor14:7). Bahkan Kitab Wahyu memperlihatkan kepada kita bahwa dalam kemah Yerusalem baru alat-alat musik dimainkan (Why 5:8-9. 14:2-3 15:2-3). 
Semua musik yang dimainkan selalu dalam kerangka pesta perjamuan Anak Domba, yang untuk masa kini adalah perayaan Ekaristi dan akan menjadi jelas semuanya pada masa yang akan dating [di akhir zaman]. 


Pesan apakah yang musti diambil dari ulasan pendek di atas:

1) Jika anda dan saya pandai bermain alat musik, ingatlah Tuhan telah memintamu untuk bermain musik di rumahNya.

2) Lagu dinyanyikan, musik dimainkan semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan.

3) Sudah selayaknya, pentahtaan Sakramen Mahakudus diiringi musik dan nyanyian yang meriah

4) Alat-alat musik dalam peribadatan mengingatkan kita akan sukacita meriah di Yerusalem Baru. Jika alat-alat dimusik dimainkan dalam setiap peribadatan, anda dan saya berada pada suasana yang sama: pesta yg penuh sukacita di sorga. 

5) Para pemusik dan penyanyi [koor, dirigen] bertanggungjawab penuh atas kalimat: “para penyanyi, dengan membawa alat-alat musik seperti gambus, kecapi dan ceracap untuk memperdengarkan dengan nyaring lagu-lagu gembira” (1Taw 15:16). 

6) Tuhan memberkati dan menguduskan mereka yang bernyanyi dan bermain musik di rumahNya.

Jadi, dirigen, pemain musik, koor, haruslah tampil maksimal dan memberikan yang terbaik disertai dengan kesungguhan hati. Ya…jangan asal. Jangan muda parkir dari latihan.