Pengumuman

-Demi menunjang perkembangan blog OMK ini, bagi teman-teman yang ingin mengirimkan artikel berbentuk rohani, pengalaman pribadi. Silakan kirimkan artikel teman-teman ke omkstmariapku@gmail. Sertakan nama lengkap dan kalau ada, alamat facebook teman-teman.
Artikel yang dikirim haruslah berbobot, original(bukan copy-paste), dan tidak menyinggung SARA.

-Teman-teman diharapkan untuk tepat waktu datang dalam latihan koor kita, demi kelancaran bersama.

Trims

Patung Di Gereja

Di gereja-gereja biasanya ada sejumlah patung. Tanpa patung, kita merasa ada yang belum pas. Gak mood rasanya kalau gereja tanpa patung. Ada sementara orang mengatakan bahwa orang katolik menyembah patung. Pemakaian patung dalam peribadatan merupakan bentuk penyembahan berhala. Alkitab melarang pemakaian patung seperti tertulis dalam Kel 20:4-5.

Apakah benar bahwa Alkitab melarang pemakaian patung dan dapatkah teks tersebut dipakai sebagai pendasarannya? “


4)Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau ayng ada di bumidi bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5)Jangan sujud menyembah kepadanya, atau beribadah kepadanya, sebab Aku TUHAN, Allahmu adalah Allah yang cemburu yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku”. (Keluaran 20:4-5. Ulangan 5:8-9).

Sepintas teks tersebut dilihat sebagai larangan pemakaian patung. Namun, jika itu yang dimaksud maka kehadiran ayat 5 menjadi tidak bermakna. Sebaliknya, justeru pada ayat limalah letak penekanannya. “jangan sujud menyembah, atau beribadah kepadanya”.

Jika yang dimaksud adalah larangan pemakaian patung, maka ayat empat sudah cukup sebab ayat 5 justeru mengurangi bobot ayat empat. Tidak ada indikasi larangan memakai patung, tetapi apa yang dilarang adalah memakai patung untuk disembah atau untuk beribadat-berdoa kepada patung itu.

Tarian Persembahan

Kita sudah sering melihat dan menikmati tarian persembahan dalam peribadatan Kristen. Apakah tindakan tersebut memiliki jejaknya dalam Alkitab? 

Orang Israel mempunyai kebiasaan menyambut kemenangan dalam perang dengan tari-tarian dan menyanyi (Hak 11:34, 21:21; 1Sam 18:6). Kebiasaan ini dipraktekkan pula dalam peribadatan mereka.
Kitab Keluaran menyajikan kepada kita bagaimana orang Israel menari dalam konteks penyembahan/peribadatan (yang salah).

“Dan ketika ia dekat dengan perkemahan itu dan melihat anak lembu dan melihat orang menari-nari, maka bangkitklah amarah Musa; dilemparkanyalah kedua loh itu dari tanganya dan dipecahkannya pada kaki gunung”. (Kel 32:19).

Amat jelas bahwa tarian yang dibuat berlangsung dalam konteks penyembahan berhala. Musa menjadi sangat marah.
Sesuai dengan konteksnya, Musa marah, tetapi sesuai dengan konteksnya pula Daud sangat antusias dan ambil bagian dalam hal tari-menari di hadapan Tuhan.

“Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala. Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhail, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya…Tetapi berkatalah Daud kepada Mikhail: Di hadapan TUHAN yang telah memilih aku dengan menyisihkan ayahmu dan segenap keluarganya untuk menunjuk aku menjadi raja atas umat TUHAN yakni atas Israel, - di hadapan TUHAN aku menari-nari…” (2Sam 6:14-16.21-22).

“Menari-nari” dikehendaki oleh Tuhan.

“Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagiMu dan jangan berdiam diri TUHAN Allahku untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagiMu” (Mzr 30:12-13).

Pemazmur juga mendaraskan puji-pujian kepada Allah dengan tari-tarian.

“Biarlah mereka memuji-muji namaNya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepadaNya dengan rebana dan kecapi” (Mzr 149:3).

Peribadatan Israel terasa penuh dengan sorak-sorai dan kegembiraan. Hal tersebut dapat kita rasakan manakala kita dengan tenang membaca mazmur penutup (150). Kami kutip sluruhnya dengan maksud kita dapat menikmatinya dalam jiwa yang bening.

Penyanyi & Alat-alat Musik

Penyanyi dan Alat-alat Musik

Kata “musik” yang merujuk pada alat-alat kesenian hanya dipakai sekali dalam Alkitab. Ini tidak berarti bahwa pemakaian pelbagai alat musik dalam peribadatan Israel tidak penting, atau para penulis suci mengesampingkan pentingnya pemakaian alat musik dalam peribadatan.

Teksnya dapat kita baca dalam kitab Tawarik.

“Jadi, para imam dan orang-orang Lewi menguduskan dirinya untuk mengangkut tabut Tuhan, Allah Israel. Kemudian bani Lewi mengangkat tabut tabut Allah itu dengan gandar pengusung di atas bahu mereka, seperti yang diperintahkan Musa sesuai dengan Firman TUHAN. Daud memerintahkan para kepala orang Lewi itu supaya mereka menyuruh berdiri saudara-saudara sepuak mereka yakni para penyanyi, dengan membawa ALAT-ALAT MUSIK seperti gambus, kecapi dan ceracap untuk memperdengarkan dengan nyaring lagu-lagu gembira” (1Taw 15:14-16).

Kita mengerti bahwa Tabut TUHAN adalah persiapan pentahtaan Anak Domba. Pada saat itulah musik dimainkan dan lagu-lagu gembira dinyanyikan. Jadi, musik dimainkan dalam suatu peristiwa pesta/perayaan pengangkatan tabut Tuhan. Pesta itu merupakan persiapan Perjamuan dan Pentahtaan Anak Domba yakni Ekaristi [Bdk ketika Imam mentahtakan Sakramen Mahakudus dlm sebuah Monstrans]. Dengan demikian, pemakaian musik dalam perayaan ekaristi sungguh memiliki dasar bibilisnya.

Copyright © 2009 - OMK Santa Maria Pku - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template